Breaking News

Dinsos KLU Ungkap Dampak Penundaan Pembelajaran, Sejumlah Siswa Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri

 

Foto//Kepala Bidang Dayasos pada Dinas Sosial (Dinsos) KLU, Sukardim Husein,


LOMBOK UTARA, PENANTB.COM – Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) permanen di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), terus dikebut dan kini memasuki tahap akhir. 

Progres pembangunan fasilitas pendidikan tersebut telah mencapai 92,08 persen dan ditargetkan segera rampung agar dapat menunjang kegiatan belajar mengajar.

Kepala Bidang Dayasos pada Dinas Sosial (Dinsos) KLU, Sukardim Husein, mengatakan Lombok Utara menjadi satu-satunya kabupaten di NTB yang masuk dalam tahap kedua pembangunan Sekolah Rakyat permanen.

“Alhamdulillah, progres bangunannya sudah mencapai kurang lebih 92,08 persen. Saat ini sudah memasuki tahap finishing,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).

Menurut Sukardim, Sekolah Rakyat di Lombok Utara telah mengakomodasi sekitar 600 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

Para siswa tersebut tidak hanya berasal dari Lombok Utara, tetapi juga dari sejumlah wilayah lain, termasuk Sumbawa serta sekolah rintisan Sekolah Rakyat di Lombok Timur dan Lombok Barat. 

Mereka untuk sementara dititipkan di Lombok Utara karena fasilitas permanen di daerah tersebut menjadi satu-satunya yang tersedia dalam tahap pembangunan tersebut.

Meski pembangunan fisik mendekati rampung, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) masih menunggu kesiapan sarana dan prasarana. Dinsos KLU berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan pada akhir Oktober 2026.

Sukardim menjelaskan, kegiatan pembelajaran semestinya mulai berlangsung pada 14 Juli 2026. Namun, pembangunan fasilitas yang belum selesai menyebabkan jadwal tersebut tertunda.

Kondisi itu berdampak terhadap keberlanjutan siswa dalam mengikuti program Sekolah Rakyat. Sebagian siswa bahkan dilaporkan mengundurkan diri karena orang tua mereka mempertanyakan kepastian dimulainya kegiatan belajar mengajar.

“Penundaan ini memang berdampak pada kondisi siswa. Ada yang mengundurkan diri karena orang tua mempertanyakan mengapa anak-anak mereka belum mulai belajar, sementara siswa di sekolah reguler sudah menjalani kegiatan pembelajaran,” jelasnya.

Ia mengakui, kekhawatiran orang tua menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlanjutan siswa dalam program tersebut. Terlebih, keterlambatan pembelajaran dibandingkan sekolah reguler menimbulkan kekhawatiran anak-anak akan tertinggal dalam pendidikan.

Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, Dinsos KLU telah menggelar sosialisasi dengan mengundang orang tua dan siswa. Pertemuan itu bertujuan memberikan penjelasan mengenai perkembangan pembangunan fasilitas serta rencana pelaksanaan kegiatan pendidikan di Sekolah Rakyat.

Sukardim berharap para siswa tetap bertahan dan melanjutkan pendidikan melalui program tersebut. Menurutnya, jumlah siswa yang mengundurkan diri masih berpotensi berubah seiring dengan perkembangan kesiapan fasilitas dan kepastian dimulainya pembelajaran.

“Kita harap para siswa tetap bertahan dan melanjutkan pendidikan melalui program ini. Saat ini jumlah siswa yang mengundurkan diri masih dapat berubah seiring perkembangan kesiapan fasilitas dan kepastian pelaksanaan pembelajaran,” tutupnya. (Ten)


0 Komentar




























Type and hit Enter to search

Close