LOMBOK UTARA, PENANTB.COM – Sebanyak 54 dusun di Kabupaten Lombok Utara (KLU) kini masuk dalam wilayah terdampak kekeringan. Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 5.600 kepala keluarga atau lebih dari 16 ribu jiwa membutuhkan pasokan air bersih.
Jumlah wilayah terdampak tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, tercatat sekitar 45 dusun yang masuk dalam penanganan kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU, M. Zaldy Rahadian mengatakan, penanganan kekeringan dilakukan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati KLU tentang status siaga bencana kekeringan yang berlaku sejak 1 Agustus hingga 31 Desember 2026.
“Penanganan kekeringan ini sesuai dengan SK Siaga Bencana Kekeringan yang sudah ditetapkan Bupati, mulai 1 Agustus sampai dengan 31 Desember,” kata Zaldy, Rabu (23/9/2026).
Sejak status siaga diberlakukan, BPBD KLU mulai melakukan distribusi air bersih ke sejumlah titik yang mengalami krisis air.
Untuk tahun 2026, BPBD KLU menyiapkan sebanyak 240 tangki air dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter. Distribusi dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan dan laporan dari wilayah terdampak.
Kecamatan Bayan menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan distribusi air bersih cukup intensif. Selain Bayan, distribusi juga dilakukan ke sejumlah wilayah di Kecamatan Kayangan, Tanjung dan Pemenang.
“Untuk saat ini di wilayah Bayan hampir tiap hari kita lakukan distribusi. Kemudian Kayangan, Tanjung, Pemenang juga,” ujarnya.
Di Kecamatan Pemenang, Dusun Kakol menjadi salah satu wilayah yang cukup intensif mengajukan permintaan air bersih. Masyarakat di wilayah tersebut bahkan kembali mendapatkan bantuan air melalui mobil tangki Polres KLU.
BPBD juga terus mendorong solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan air bersih di wilayah terdampak. Salah satunya melalui pelayanan jaringan perpipaan.
Zaldy menyebutkan, PDAM telah melakukan survei ke wilayah Kakol untuk melihat kemungkinan pelayanan air bersih melalui jaringan perpipaan ke depan.
Menurut Zaldy, bertambahnya wilayah terdampak kekeringan tidak terlepas dari kondisi musim kemarau tahun ini. Berdasarkan analisis BMKG yang dibahas dalam koordinasi penanganan kekeringan, musim kemarau 2026 dipengaruhi fenomena El Nino.
“Analisa BMKG bahwa di tahun 2026 musim kemarau ini bersamaan dengan El Nino, sehingga akan lebih panjang, lebih kering dan lebih cepat,” jelasnya.
Bahkan, berdasarkan informasi yang diterima dalam rapat koordinasi penanganan kekeringan tingkat Provinsi NTB, kondisi kemarau diperkirakan masih dapat berlangsung hingga Maret 2027.
Dengan potensi kemarau yang lebih panjang, BPBD KLU telah menghitung kebutuhan distribusi air hingga akhir tahun. Dari 240 tangki yang tersedia, jika dibagi berdasarkan 54 dusun terdampak, setiap dusun diperkirakan mendapatkan sekitar empat kali distribusi.
Namun, BPBD tidak bekerja sendiri. Sejumlah pihak turut memberikan dukungan untuk memperluas jangkauan pelayanan air bersih, di antaranya PMI, Bank NTB Syariah dan Polres KLU.
“Kalau kita mengacu jumlah titik dengan alokasi yang kita miliki 240, paling tidak per satu dusun itu empat kali. Nanti ada teman-teman Bank NTB, PMI, kemudian Polres juga yang mem-backup supaya semua titik ini bisa dilayani,” pungkasnya.

0 Komentar