![]() |
| Foto// Sekolah SDN 6 Tanjung (foto//Teno Penantb) |
LOMBOK UTARA, PENANTB.COM — Kondisi penerimaan peserta didik baru di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Lombok Utara (KLU) menjadi perhatian. SDN 6 Tanjung dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan siswa baru pada tahun ajaran baru ini. Bahkan, hingga dilakukan pemantauan, sekolah tersebut baru mendapatkan satu calon siswa kelas 1.
Kondisi minimnya peminat tersebut menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara. Dari hasil pemantauan lapangan, ditemukan sejumlah faktor yang diduga memengaruhi keengganan orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.
Salah satu penyebab yang mencuat yakni adanya trauma masyarakat akibat kejadian lama sebelum gempa, di mana pernah terjadi tembok sekolah roboh. Hal itu disebut membuat sebagian orang tua masih ragu memasukkan anaknya ke SDN 6 Tanjung.
“Kalau saya pelajari khusus untuk SD 6 ini, yang membuat trauma orang tua menyekolahkan di situ katanya pernah ada kejadian tembok roboh sebelum gempa. Saya sendiri baru tahu informasi ini,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara M. Najib Senin (29/06/2026).
Selain faktor tersebut, persoalan lain yang menjadi sorotan adalah kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di sekolah. Bahkan disebutkan, ketua komite sekolah tersebut tidak menyekolahkan anaknya di sekolah yang dipimpinnya sebagai komite.
“Kalau mendengar informasi dari sekolah sekitar, kualitas pembelajaran itu sangat penting diusahakan bagus. Karena terbukti ketua komitenya saja tidak menyekolahkan anaknya di situ,” ujarnya.
Dinas Pendidikan menegaskan, langkah awal yang dilakukan adalah memastikan aturan zonasi berjalan sesuai regulasi nasional. Sekolah yang berada dalam wilayah zonasi SDN 6 Tanjung diharapkan dapat mengikuti aturan tersebut.
Kepala sekolah juga diminta melakukan inovasi agar sekolah lebih menarik bagi masyarakat, terutama melalui peningkatan prestasi siswa, kegiatan kreatif, dan memperlihatkan hasil karya peserta didik.
“Sekarang satu-satunya cara adalah bersaing dari sisi mutu. Kalau sekolah mampu mencetak lulusan yang berkualitas, masyarakat pasti tertarik memasukkan anaknya tanpa harus disuruh,” tegasnya.
Selain itu, keberadaan sekolah swasta di sekitar wilayah tersebut juga disebut menjadi salah satu tantangan. Berbeda dengan sekolah negeri, sekolah swasta tidak terikat sistem zonasi sehingga dapat menerima siswa dari berbagai wilayah.
“Sekolah swasta bisa menerima murid dari mana saja, tidak hanya sekitar wilayah itu. Itu juga membuat kondisi siswa baru semakin berat,” jelasnya.
Saat ini jumlah keseluruhan siswa SDN 6 Tanjung dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya sekitar 40 orang. Bahkan calon siswa baru yang sudah mendaftar masih belum memastikan bertahan karena khawatir belajar seorang diri tanpa teman sekelas.
“Baru hari ini dapat satu siswa. Itu pun belum berani memastikan kalau tidak ada temannya. Makanya kita carikan teman agar dia mau sekolah di situ,” katanya.
Dinas Pendidikan berharap sekolah mampu bangkit melalui peningkatan kualitas pendidikan dan prestasi, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut kembali tumbuh.
Editor: Teno Haichal

0 Komentar