Breaking News

Dinkes KLU Catat 16 Kasus Gizi Buruk Sepanjang 2025, Satu Kasus Berat Ditangani Intensif

Foto// Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara H. Baharuddin 



 Lombok Utara, PenaNTB.com -Seorang balita berusia 4,6 tahun di Dusun Panggung Barat, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), tengah menjalani penanganan intensif akibat gizi buruk berat yang disertai penyakit kronis. 

Balita bernama M. Gibran tersebut diketahui tidak pernah menerima imunisasi sejak lahir, sehingga kondisi kesehatannya terus memburuk.

Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. H. Lalu Bahrudin, M.Kes., Rabu (4/2/2026), menjelaskan bahwa Gibran mengalami gizi buruk tipe marasmus stadium berat. 

Kondisi tersebut diperparah oleh penyakit penyerta berupa pneumonia yang kerap kambuh serta anemia, yang telah berlangsung dalam jangka waktu lama.

Menurut Bahrudin, Gibran lahir di Malaysia karena kedua orang tuanya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). 

Selama masa kehamilan hingga kelahiran, anak tersebut tidak mendapatkan layanan kesehatan dasar, termasuk imunisasi yang umumnya diberikan di Indonesia. 

Keluarga baru kembali ke Lombok Utara pada pertengahan tahun 2025.

“Pasien sudah cukup lama mengalami gizi buruk. Secara medis, kondisi ini semakin berat karena riwayat imunisasi nihil dan daya tahan tubuh anak sangat rendah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ketiadaan layanan kesehatan sejak lahir berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. 

Risiko keparahan penyakit meningkat hingga 75 persen akibat lemahnya kekebalan dasar tubuh.

Berdasarkan riwayat medis di fasilitas kesehatan KLU, pasien telah beberapa kali mendapatkan perawatan dan rujukan ke RSUD NTB. 

Namun, proses pengobatan sempat terkendala lantaran pihak keluarga beberapa kali menolak rujukan, meskipun kondisi anak terus mengalami penurunan.

Saat ini, Dinas Kesehatan KLU melalui Puskesmas Kayangan telah melakukan penanganan secara optimal. 

Petugas gizi dikerahkan untuk melakukan intervensi dan pemantauan rutin, serta memberikan makanan tambahan guna membantu pemulihan kondisi kesehatan pasien.

Bahrudin juga mengungkapkan bahwa kasus gizi buruk di Lombok Utara bersifat fluktuatif. 

Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 16 kasus gizi buruk di seluruh wilayah KLU, dengan sebaran 2 hingga 3 kasus di masing-masing puskesmas.

“Sekitar 5 persen merupakan gizi buruk murni, sementara sisanya disertai penyakit penyerta,” jelasnya.

Distribusi kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Gangga dengan 8 kasus, disusul wilayah Pemenang–Nipah sebanyak 3 kasus, Santong 2 kasus, serta masing-masing satu kasus di Kecamatan Tanjung, Kayangan, dan Senaru. 


0 Komentar


















Type and hit Enter to search

Close