Breaking News

Polemik Nama “Dayan Gunung” di Proyek Alun-Alun Tanjung, Ketua DPRD KLU Tegaskan Belum Pernah Sepakati

Foto// ketua DPRD Kabupaten Lombok Utara Agus Jasmani 

 

Lombok Utara, penantb.com– Polemik penamaan pada proyek pembangunan Alun-alun Kota Tanjung kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Perdebatan muncul setelah terpampangnya tulisan “Dayan Gunung” pada bagian depan proyek tersebut, yang dinilai sebagian warga tidak merepresentasikan keseluruhan identitas Lombok Utara. Sementara itu, sebagian lainnya mendukung penggunaan nama tersebut sebagai simbol kultural wilayah.

Menanggapi kontroversi yang terus berkembang, Ketua DPRD Lombok Utara, Agus Jasmani, memberikan penjelasan resmi pada Rabu (10/12/2025). Ia menegaskan bahwa pihak DPRD tidak pernah menyepakati penggunaan nama “Dayan Gunung” sebagaimana terpasang pada plang proyek alun-alun

Menurut Agus, pembahasan formal terkait nama alun-alun tidak pernah mengarah pada penyematan “Dayan Gunung”. 

Ia menjelaskan bahwa pada ekspose pertama, yang ia hadiri langsung, fokus diskusi berada pada penyelesaian persoalan teknis, terutama penataan dan solusi bagi pedagang kaki lima yang selama ini beraktivitas di area tersebut.

“Terkait penggunaan nama ‘Dayan Gunung’ pada latar depan alun-alun, setahu saya hal tersebut tidak pernah kita sepakati sebelumnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati sebelumnya, Djohan Sjamsu, hanya menyampaikan bahwa nama yang digunakan cukup “Alun-Alun Tioq Tata Tunaq”, tanpa ada pembahasan atau usulan tambahan mengenai nama Dayan Gunung.

Agus juga mengingat kembali ekspose kedua yang dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih saat itu, Najmul Akhyar dan Kusmalahadi Syamsuri. Dalam forum tersebut, pembahasan beralih pada penyempurnaan desain, termasuk pemindahan tugu gempa, penataan ulang lapangan, serta elemen visual lainnya.

Menurutnya, tidak sekalipun muncul pembahasan terkait penamaan Dayan Gunung. Justru arah diskusi ketika itu lebih kepada kebutuhan menambahkan versi Bahasa Inggris pada nama alun-alun, mengingat Lombok Utara merupakan daerah pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

“Pembahasan lebih mengarah pada penyempurnaan desain. Saat itu Pak Bupati hanya meminta agar nama alun-alun dicantumkan juga dalam versi Bahasa Inggris. Tidak ada pembahasan tentang penamaan Dayan Gunung,” jelasnya menegaskan.

Meski demikian, politisi PKB tersebut menyatakan bahwa dirinya tidak menolak penggunaan nama Dayan Gunung secara pribadi. Ia menilai nama tersebut memiliki nilai dan sejarah tersendiri. 

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan nama yang lebih umum dan mudah dipahami masyarakat luas justru akan menghindarkan persepsi negatif serta kesalahpahaman di kemudian hari.

“Secara pribadi saya menilai bahwa nama Dayan Gunung bagus dan tidak salah, namun alangkah lebih baik bila kita menggunakan nama yang lebih umum. Ini sesuai kesepahaman awal agar tidak menimbulkan persepsi seolah-olah ada keputusan yang diambil tanpa musyawarah,” tutupnya 



0 Komentar




















Type and hit Enter to search

Close