![]() |
| Foto// Kepala Dinas PUPR Kabupaten Lombok Utara Sahabudin |
Lombok Utara, penantb.com – Pembangunan Islamic Center Kabupaten Lombok Utara (KLU) kini telah memasuki pekan ke-9 pelaksanaan tahap pertama. Namun, progres fisik proyek tersebut masih di bawah target yang ditetapkan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Kawasan Permukiman dan Perumahan (PUPR-PKP) KLU, Sahabudin, mengungkapkan bahwa seharusnya progres pembangunan sudah mencapai 50,37 persen. Akan tetapi, realisasi di lapangan baru menyentuh 39,12 persen, sehingga terjadi deviasi minus 11,25 persen.
“Permasalahan yang kita hadapi saat ini adalah kelangkaan pompa beton, sehingga memengaruhi pekerjaan beton di lapangan,” jelas Sahabudin, Jumat (03/10).
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah menggelar Show Cause Meeting (SCM) — rapat koordinasi antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan pihak penyedia barang/jasa untuk menyepakati ulang target realisasi proyek.
Selain itu, PUPR-PKP juga mendorong percepatan pekerjaan non-beton agar progres fisik tetap berjalan, serta mempercepat pemesanan material pabrikasi dari Mataram guna mendukung kelancaran pekerjaan di lapangan.
“Melalui SCM ini kita bisa menemukan solusi yang tepat antara semua pihak. Sementara untuk pemesanan material, kami pastikan segera dipercepat agar tidak ada lagi hambatan distribusi,” ujarnya.
Meski sempat tertinggal dari target, Sahabudin tetap optimistis proyek Islamic Center KLU dapat diselesaikan sesuai jadwal, yakni pada awal Desember 2025.
“Dengan langkah percepatan yang sedang kita lakukan, kami yakin pekerjaan bisa selesai sesuai target,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Perumahan dan Kawasan Permukiman PUPR-PKP KLU, Yaya Fradana, menambahkan bahwa keterlambatan progres disebabkan oleh keterlambatan ketersediaan concrete pump (pompa beton) dari vendor.
“Pengecoran di bagian atas belum bisa dilakukan karena pompa beton belum tersedia. Namun dalam beberapa hari ke depan alat tersebut sudah datang,” jelas Yaya.
Ia menegaskan, setelah proses pengecoran dilakukan, progres proyek akan melonjak di atas 50 persen, mengingat bobot terbesar dalam pekerjaan fisik berada pada pekerjaan beton.
“Terdapat deviasi pekerjaan minus, tapi masih dalam koridor kontrak,” ujarnya.
Menurut Yaya, kelangkaan concrete pump terjadi lantaran banyak proyek berjalan bersamaan di seluruh wilayah NTB, sehingga permintaan alat meningkat tajam.
“Biasanya begitu pesan langsung tersedia, tapi sekarang harus menunggu lama karena stoknya terbatas,” tutupnya.

0 Komentar