![]() |
| Foto// Wakil Bupati Kabupaten Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri bersama Kepala Dinas DKP3 KLU Tresnahadi pakai topi merah |
Lombok Utara, Penantb.com – Inovasi pertanian kembali lahir dari tangan-tangan petani kreatif di Kabupaten Lombok Utara. Melalui proses panjang dan ketekunan dalam melakukan sambung silang, para petani berhasil menemukan dua varietas baru kakao lokal yang kini menjadi kebanggaan daerah, yakni “Ijo Kajuman” dan “Beneng Jomot”.
Kepala DKP3 Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, menjelaskan bahwa penemuan varietas ini berawal dari uji coba dan eksperimen para petani di lapangan, khususnya Pak Jabat, salah satu petani kakao asal daerah tersebut. Melalui proses sambung silang antara varietas lama dan varietas baru, muncullah varietas unggulan Ijo Kajuman, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut hingga menghasilkan varietas baru lagi bernama Beneng Jomot.
“Varietas Ijo Kajuman ini ditemukan oleh petani lokal kita, Pak Jabat. Awalnya beliau coba-coba menyambung antara varietas lama dengan yang baru. Hasilnya luar biasa muncullah varietas baru dengan warna daun dan buah yang tetap hijau meski sudah tua, dan ukuran buahnya jauh lebih besar dari varietas sebelumnya,” jelas Tresnahadi.
Keberhasilan penemuan varietas Ijo Kajuman menjadi langkah awal menuju varietas baru lainnya. Para petani kemudian melakukan proses perkawinan manual antara varietas Ijo Kajuman dengan varietas Mama Murmas, yang dikenal sebagai varietas “jantan”. Dari persilangan tersebut, lahirlah varietas Beneng Jomot kakao berwarna merah cerah yang semakin tua warnanya semakin merah, dengan ukuran buah yang lebih besar dan rasa yang manis.
“Varietas Beneng Jomot ini hasil dari perkawinan manual antara Ijo Kajuman dan Mama Murmas. Kalau Ijo Kajuman berwarna hijau dan agak kecut rasanya, Beneng Jomot justru berwarna merah dan rasanya manis. Dari hasil panen kemarin, satu pohon bisa menghasilkan 20 buah yang berat keringnya mencapai satu kilogram,” ungkap Tresnahadi.
Sebagai perbandingan, varietas kakao unggulan seperti MCC Sulawesi membutuhkan sekitar 30–35 buah untuk menghasilkan satu kilogram kering. Artinya, Beneng Jomot jauh lebih produktif dan bernilai ekonomis tinggi karena ukuran biji dan buahnya lebih besar.
Antusiasme petani terhadap dua varietas lokal ini cukup tinggi. Varietas Ijo Kajuman kini sudah banyak dibibitkan oleh kelompok tani di berbagai wilayah Lombok Utara. Bahkan, beberapa bibit dilaporkan sudah mulai dijual ke luar daerah karena permintaan yang meningkat.
“Ijo Kajuman sudah banyak dibibitkan oleh kelompok tani dan bahkan sudah dijual keluar daerah. Ini menunjukkan minat masyarakat sangat tinggi terhadap varietas lokal yang punya potensi besar ini,” kata Tresnahadi.
Dinas DKP3 Kabupaten Lombok Utara berencana untuk mendaftarkan kedua varietas baru tersebut ke Kementerian Pertanian agar diakui secara resmi sebagai varietas lokal Lombok Utara. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat identitas daerah sekaligus memberikan perlindungan hukum dan nilai tambah bagi para petani.
“Insya Allah tahun depan akan kami anggarkan untuk proses pendaftaran varietas ini ke Kementerian Pertanian. Harapan kami, varietas Ijo Kajuman dan Beneng Jomot bisa mendapatkan pengakuan resmi sebagai varietas lokal Lombok Utara,” ujar Tresnahadi.
Sebelumnya, Kabupaten Lombok Utara juga telah sukses mendaftarkan dan memperoleh sertifikat varietas lokal untuk tanaman Porang dan Kurma, yang menjadi tonggak penting dalam pengembangan komoditas unggulan daerah.
Penemuan varietas kakao baru ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan semangat inovatif petani Lombok Utara terus berkembang. Melalui pendekatan trial and error dan dorongan untuk meningkatkan produktivitas, mereka berhasil melahirkan varietas unggulan yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi tetapi juga potensi besar untuk dikembangkan lebih luas.
“Awalnya ini semua dari keingintahuan para petani kita. Mereka coba-coba menyambung varietas bantuan pemerintah yang sudah ada di kebun mereka. Dari situ lahirlah Ijo Kajuman, dan dari Ijo Kajuman dikembangkan lagi hingga jadi Beneng Jomot. Ini bukti bahwa inovasi bisa lahir dari bawah,” tutup Tresnahadi dengan optimis.
Penulis: Teno Haichal

0 Komentar