Breaking News

Setelah Dialog Dua Kali, Dermaga Sementara Kayangan Kembali Dimanfaatkan

 

Foto// Pelabuhan sempat ditutup sementara 

Lombok Utara, penantb.com – Dermaga sementara Kayangan yang sempat ditutup akibat protes sejumlah sopir dump truk akhirnya kembali bisa dimanfaatkan untuk pengiriman material proyek pemecah ombak di Gili Meno. Kesepakatan tercapai setelah dilakukan dua kali pertemuan yang mempertemukan pihak pelaksana proyek, sopir dump truk, dan warga setempat.

Edi, salah satu suplayer material proyek strategis pemecah ombak Gili Meno, menyatakan persoalan yang sempat memicu protes hanyalah masalah miskomunikasi. Menurutnya, kini semua pihak sudah sepakat untuk saling diakomodasi.

“Aspirasi warga maupun para sopir sudah ada titik temu. Dermaga sementara kembali dimanfaatkan untuk distribusi material ke Gili Meno. Justru kami senang jika proyek ini bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ujarnya, Kamis (4/9).

Edi menambahkan, dermaga tersebut hanya bersifat sementara dan akan dikembalikan seperti semula usai proyek rampung. Ia juga membuka ruang bagi semua pihak untuk turut bekerja bersama-sama dalam distribusi material.

Sementara itu, Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, menegaskan pembangunan pemecah ombak harus tetap berjalan karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Tingkat abrasi yang semakin mengkhawatirkan, katanya, bisa ditekan dengan adanya bangunan penahan ombak.

“Sekarang baru satu pemecah ombak saja sudah terasa manfaatnya, apalagi jika tiga unit sesuai rencana. Ini untuk penyelamatan pulau agar tidak terkikis habis oleh abrasi,” tegasnya.

Dukungan juga datang dari Anggota Komisi II DPRD Lombok Utara, Artadi, S.Sos., yang turut memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut. Ia membenarkan adanya kata sepakat antara warga, sopir, dan pelaksana proyek.

“Pelaksana siap memberikan kompensasi kepada nelayan, mengakomodir sopir dump truk, serta mengembalikan kondisi pantai setelah proyek selesai. Setelah semua pihak sepakat, kegiatan bisa dilanjutkan dan dermaga sementara kembali difungsikan,” ungkapnya.

Artadi menambahkan, pemanfaatan dermaga Kayangan untuk pengiriman material dipilih karena dermaga Bangsal tidak memungkinkan. Selain menjadi pusat aktivitas wisatawan ke Tiga Gili, jalur Bangsal juga berpotensi mengganggu arus pariwisata.

“Proyek ini merupakan program pusat yang berskala prioritas. Kalau tidak tuntas, tentu akan ada konsekuensi bagi daerah. Karena itu, mari kita dukung bersama demi keberlangsungan masyarakat Gili Meno,” pungkasnya.



0 Komentar




















Type and hit Enter to search

Close