![]() |
| Foto// Kepala desa Bentek Kabupaten Lombok Utara Warna Wijaya |
Lombok Utara, penantb.com – Kepala Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Warna Wijaya, meraih penghargaan nasional Peacemaker Justice Award (PJA) Tahun 2025 dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Penghargaan bergengsi ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas peran aktif Kepala Desa dalam menyelesaikan persoalan hukum di tingkat lokal melalui mediasi dan pendekatan restoratif.
Warna Wijaya menjadi satu dari enam kepala desa di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berhasil meraih penghargaan tersebut, bersama 130 kepala desa terpilih dari seluruh Indonesia.
Sebelumnya, ajang ini diikuti oleh 1.380 kepala desa dan lurah se-Indonesia, melalui seleksi ketat dengan kriteria-kriteria khusus, terutama terkait kinerja lembaga penyelesaian sengketa lokal seperti Majelis Kerama Desa (MKD).
Selain Kepala Desa Bentek, lima tokoh lainnya dari NTB yang meraih penghargaan serupa antara lain:
Kepala Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur
Lurah Dara, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima
Kepala Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat
Lurah Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram
Lurah Pekat, Kabupaten Sumbawa
Dalam keterangannya, Warna Wijaya menyampaikan bahwa delapan desa di Lombok Utara turut mengikuti seleksi Anugerah PJA, termasuk Desa Bayan, Desa Malaka, dan Desa Genggelang.
Namun Desa Bentek dinilai unggul dalam hal penanganan persoalan hukum dan penyelesaian konflik secara damai di tingkat desa.
“Pemerintah Desa Bentek dinilai mampu menangani persoalan hukum secara efektif, dengan lebih banyak menyelesaikan melalui jalur mediasi ketimbang berujung ke kepolisian atau pengadilan. Itu menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian ini,” ungkap Warna Wijaya.
Keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi aktif Kepala Desa dan MKD, yang telah menjadi garda depan dalam mencegah konflik horizontal di tengah masyarakat. Sistem ini dinilai berhasil menekan jumlah kasus yang masuk ke ranah pidana.
Desa Bentek selama ini dikenal sebagai miniatur kerukunan di Lombok Utara, dengan keberagaman suku dan agama yang tinggi. Di desa ini, terdapat tiga agama besar yang hidup berdampingan secara harmonis: Islam, Buddha, dan Hindu.
Potensi konflik tentu tinggi dalam struktur masyarakat multikultural seperti ini. Namun pendekatan dialogis dan kesadaran kolektif masyarakat membuat Desa Bentek justru menjadi contoh harmonisasi keberagaman yang patut ditiru.
“Alhamdulillah, meski masyarakat kita beragam, kita minim konflik dan cukup harmonis. Ini adalah hasil kerja sama semua pihak di desa,” ujar Warna.
Dengan penghargaan ini, Warna berharap semakin banyak desa di Lombok Utara yang bisa mengikuti jejak Desa Bentek. Tidak hanya sebagai bentuk prestasi, tetapi juga sebagai upaya memperkuat citra Lombok Utara sebagai daerah yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi penyelesaian konflik secara musyawarah.
“Harapan kami, ke depan akan lebih banyak lagi desa-desa di Lombok Utara yang dapat meraih anugerah ini demi nama baik Lombok Utara sebagai daerah keberagaman yang damai,” pungkasnya.
Penulis: Teno Haichal

0 Komentar