![]() |
| Foto// Kalak BPBD KLU (tengah), M. Zaldy Rahadian |
LOMBOK UTARA, Penantb.com – Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Utara, M. Zaldi Rahadian, ST., membuka secara resmi kegiatan pembahasan kerangka bahan ajar Pengurangan Risiko Bencana (PRB) untuk satuan pendidikan. Kegiatan ini berlangsung di Angkringan Balap, Desa Medana. Rabu, 27 Agustus 2025.
Turut hadir dalam acara tersebut Ketua FPRB KLU Budiawan, SH., Kabid Dikdas Dikbudpora KLU H. Ali Marjati, S.Pd., SPAB Specialist Agus Siswoaji Utomo, S.Pd., Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTB, jajaran pengawas satuan pendidikan, serta moderator Samsul Muhyin. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.
Dalam sambutannya, Kalak BPBD Lombok Utara, M. Zaldi Rahadian, ST, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna strategis bagi Lombok Utara, mengingat daerah tersebut pernah dilanda Gempa besar pada 5 Agustus 2018.
“Kegiatan yang kita laksanakan ini diharapkan dapat menghasilkan output positif bagi pembangunan Lombok Utara, khususnya dalam bidang kebencanaan. Tragedi 2018 menjadi titik balik bagi kita semua untuk memahami pentingnya siklus kebencanaan, agar generasi mendatang lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana", ucap M. Zaldi Rahadian.
Lebih lanjut, pembahasan kerangka bahan ajar ini juga diselaraskan dengan Peraturan Bupati Lombok Utara Nomor 43 Tahun 2023 tentang Pedoman Gerakan Literasi Kebencanaan. Perbup ini menjadi acuan setiap OPD dan lembaga pendidikan dalam melaksanakan program mitigasi.
“Kami berharap tragedi 2018 dapat didokumentasikan dalam bentuk video edukasi yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak. Dengan begitu, anak-anak dapat belajar langsung dari pengalaman nyata, sehingga mereka lebih mudah memahami pentingnya mitigasi bencana”, ucap M. Zaldi Rahadian.
Sementara itu Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Lombok Utara, Budiawan, SH, juga menyampaikan bahwa pentingnya integrasi literasi kebencanaan ke dalam kurikulum sekolah, baik sebagai muatan lokal maupun kegiatan ekstrakurikuler.
“Kegiatan ini sangat penting sebagai langkah awal agar peserta didik sejak dini memahami bagaimana menghadapi bencana. Kita harus menyatukan persepsi semua stakeholder terkait, mulai dari dunia pendidikan, BPBD, hingga masyarakat, sehingga terbentuk kerangka bahan ajar yang jelas dan mudah diterapkan di sekolah”, Ketua FPRB.
FPRB bersama Pemda dan Program Siap Siaga akan terus bersinergi dalam menyusun program yang menyentuh langsung masyarakat.
“Kami berharap dari pertemuan ini lahir formulasi bersama yang bisa menjadi acuan dalam literasi kebencanaan di Lombok Utara. Anak-anak kita harus siap, karena daerah ini memang rawan bencana. Literasi dan mitigasi bukan sekadar wacana, tetapi harus menjadi gerakan bersama”, ucap Ketua FPRB.
Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari, dimulai pada tanggal, 26-27 Agustus 2025. Kegiatan ini bukan sekadar forum formalitas, melainkan wadah interaktif yang mempersatukan berbagai elemen, dari pemerintah, dunia pendidikan, lembaga disabilitas, hingga organisasi relawan kebencanaan.
Melalui langkah konkret ini, generasi muda Lombok Utara akan tumbuh dengan kesadaran tinggi terhadap risiko bencana, serta mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan masyarakat yang lebih tangguh.

0 Komentar