Breaking News

Dugaan pungli di pentas anak Lombok Utara, Kadispar ngaku: itu adik-adik EO bilang

Foto// Konferensi pers 

 

Lombok Utara, penantb.com – Rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Lombok Utara ke-17 yang dirangkai dengan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 justru menyisakan duka bagi anak-anak dan masyarakat. 

Sebuah video yang memperlihatkan tangisan anak-anak karena pentas mereka gagal tampil viral di media sosial dan memicu reaksi publik.

Insiden ini mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) KLU bergerak cepat. Pada Rabu, 24 Juli 2025, Ketua Panitia HUT KLU sekaligus Kepala Dinas Pariwisata KLU Denda Dewi Tresnabudi Astuti bersama pihak Event Organizer (EO) menggelar konferensi pers untuk memberikan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka.

“Saya tidak menduga hal ini terjadi. Dari awal kami sudah wanti-wanti agar tidak menjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun ternyata di lapangan berkembang di luar kendali kami,” ujar Denda dengan suara tertahan.

Denda menjelaskan, laporan yang diterimanya sebelumnya menyebutkan semua aspek teknis berjalan aman. 

Namun pada pelaksanaan pentas anak, justru terjadi kendala teknis pada sound system yang membuat penampilan anak-anak batal.

“Saya berada di luar daerah saat itu. Saat saya hubungi EO, mereka bilang aman. Tidak ada informasi soal permintaan uang dari EO ke anak-anak. Vendor yang kami kontrak sudah termasuk untuk kegiatan pentas anak juga,” imbuhnya.

Denda mengaku pihaknya sudah mengusulkan pelaksanaan ulang pentas anak pada Sabtu mendatang, namun Lembaga Perlindungan Anak (LPA) KLU tetap menginginkan momen perayaan dilakukan tepat di Hari Anak Nasional, yakni 23 Juli.

Sementara itu, Koordinator Lapangan HUT KLU yang juga mewakili EO, Raden Prawangsa, mengakui adanya miskomunikasi fatal antara pihak EO dan vendor sound system.

“Tanggal 23 Juli itu full dipegang oleh teman-teman NGO. Kami fokus di acara malamnya. Pagi hingga siang sound tersedia, tapi sore hari tidak ada. Ini murni miskomunikasi, bukan kelalaian yang disengaja,” jelasnya.

Raden menambahkan, seluruh vendor yang digunakan adalah dari Lombok Utara. Untuk sound system dan lighting, EO menggunakan milik Universitas Mataram berdasarkan penunjukan dari panitia HUT.

“Meski penunjukan langsung, kami tetap bertanggung jawab secara moral. Ini jadi pelajaran penting untuk kami,” tambahnya.

EO Diduga Minta Uang Tambahan ke Anak-Anak

Namun, tudingan lebih serius datang dari Ketua LPA KLU, Bagiarti, yang menyebut adanya permintaan uang dari pihak EO dan vendor sound system kepada anak-anak yang akan tampil.

“Ada bukti chat WhatsApp dari EO ke Klub Baca Perempuan KLU yang meminta uang untuk bayar tenda (terop),” ungkap Bagiarti.

Padahal, kata dia, pentas anak merupakan kegiatan resmi LPA bersama NGO seperti GNI, Wahana Visi, dan Klub Baca Perempuan yang telah mendapatkan slot tampil penuh pada perayaan HAN 2025.

“Kami sudah komunikasi jauh-jauh hari. Bahkan kami ditantang untuk bisa mengisi acara di momen HUT KLU,” tambahnya kecewa.

Tak hanya itu, seorang teknisi sound system juga disebut meminta dana tambahan sebesar Rp1 juta agar sound system bisa digunakan. 

Dana itu disepakati oleh pihak NGO, namun sound system tetap tidak menyala hingga acara anak-anak gagal total.

“Saya kejar orang sound-nya. Saya tanya siapa yang suruh minta uang tambahan. Dia bilang EO-nya yang suruh,” beber Bagiarti.

LPA Desak Evaluasi dan Profesionalisme Pemda

Insiden ini menyisakan kekecewaan mendalam bagi anak-anak, orang tua, komunitas, dan masyarakat luas. 

Bagiarti menegaskan bahwa Pemda harus belajar dari kejadian ini agar ke depan lebih selektif dalam memilih vendor dan pihak ketiga.

“Semoga ini jadi pembelajaran bagi semua pihak. Pemda harus lebih profesional dan tidak pilih vendor karena kedekatan pribadi semata,” tutupnya 


0 Komentar















Type and hit Enter to search

Close