![]() |
Foto// Kisruh terjadi antara pihak LPA KLU dengan EO |
Lombok Utara, penantb.com – Kisruh yang terjadi pada acara Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di Lapangan Tanjung, Rabu 23 Juli 2025, terus memantik perbincangan hangat di media sosial. Video yang tersebar di platform Facebook menampilkan perdebatan antara pihak LPA dan pengelola soundsystem, yang kemudian menuai komentar negatif dan stigma miring terhadap penyedia sound. Bahkan, beberapa netizen mengeluarkan pernyataan tidak pantas terhadap pemilik sound, termasuk menyamakannya dengan "hewan piaraan". Senin (28/07/2025)
Merespons hal tersebut, pengelola soundsystem yang juga teknisi utama, Salikin alias Maq Ikin, angkat bicara. Dalam klarifikasinya kepada Sasambonews, ia menyampaikan bahwa narasi yang berkembang di media sosial tidak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan.
Maq Ikin menjelaskan bahwa kesepakatan kerjasama penyediaan soundsystem dan lighting berlangsung secara lisan dengan pihak Event Organizer (EO), melalui dua orang penghubung dari Desa Gondang.
Ia ditugaskan untuk menangani teknis sound selama 6 hari rangkaian acara HUT Kabupaten Lombok Utara, mulai tanggal 21 hingga 26 Juli, dengan upah disepakati sebesar Rp5 juta per hari dan telah menerima uang muka (DP).
“Selama dua hari pertama, acara berjalan lancar tanpa kendala,” ujar Maq Ikin.
Namun, masalah muncul di hari ketiga. Ia mengaku tidak menerima konfirmasi terkait adanya penambahan acara sore hari yang diinisiasi oleh LPA. Sebelumnya, ia sudah berpesan kepada penghubung EO agar jika memang ada kegiatan tambahan di luar rundown awal, seperti acara sore, maka perlu ada kompensasi tambahan sebesar Rp1 juta untuk biaya operasional enam orang kru tambahan.
“Ini bukan pungli. Tambahan itu biasa, karena kami butuh biaya transport dan konsumsi untuk tambahan jam kerja. Kami sampaikan secara profesional dan tidak meminta langsung ke panitia maupun LPA,” tegasnya.
Setelah tidak menerima konfirmasi tambahan biaya, Maq Ikin memutuskan pulang sementara karena mengira tidak ada acara sore. Namun, sekitar pukul 17.30 WITA, ia dihubungi seorang perempuan yang diduga pengurus LPA dan diminta segera menyalakan sound.
“Saya langsung kembali ke lokasi. Saat tiba, saya hanya menanyakan apakah tidak terlalu sore untuk memulai acara, karena sudah dekat Magrib, lokasi dekat Masjid Jamiq dan RSUD. Tidak ada maksud menolak atau menunda,” ungkapnya.
Di tengah diskusi tersebut, Ketua LPA tiba-tiba datang dan marah-marah, bahkan meminta seluruh peralatan sound dibongkar. Meski dalam tekanan, Maq Ikin dan tim tetap bekerja secara profesional dan tetap melanjutkan acara rutin malam seperti biasa.
Namun malam itu juga, ia menerima kabar dari penghubung EO bahwa kesepakatan kerja diputus, dengan alasan EO telah mendapatkan alat baru pengganti.
Maq Ikin mengaku tidak mempermasalahkan pemutusan kerja, sebab kesepakatan hanya secara lisan dan tidak memiliki dokumen tertulis. Namun yang ia sayangkan adalah munculnya stigma negatif terhadap dirinya dan tim, termasuk seruan agar ia dan soundsystem-nya diblacklist.
“Yang seharusnya dipertanyakan adalah EO selaku pemegang kontrak resmi dengan panitia, bukan kami yang hanya sebagai mitra teknis,” tegasnya.
Maq Ikin juga berharap masyarakat lebih bijak dalam menyikapi persoalan ini. Ia menegaskan bahwa tidak ada itikad buruk atau sabotase dari pihaknya, apalagi sengaja menghambat acara anak-anak.
Dikenal sebagai teknisi senior, Maq Ikin sudah berkecimpung di dunia sound sejak tahun 1990-an. Ia merupakan orang kepercayaan I Wayan Lester, tokoh penting di balik berbagai konser musik artis ibu kota di NTB. Hampir seluruh peralatan kecimol dan sound lokal di Lombok Utara pernah disentuh dan dirakit oleh tangan dinginnya.
Ia menegaskan bahwa klarifikasi ini tidak bermaksud mencari muka, apalagi mengamankan proyek di masa depan. Ia hanya ingin menjaga nama baik dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
“Saya hanya teknisi. Hidup saya solder dan kabel. Bukan politik. Bukan EO. Hanya ingin jujur menyampaikan yang terjadi,” tutupnya.
0 Komentar